Sunday, November 27, 2011
Bersediakah Anda Menjadi Suami?
Monday, 26 September 2011
Kebiasaan masyarakat kita apabila disebut persediaan menjadi suami, mereka menyangka ia adalah memiliki sijil pengajian tinggi, paling kurang diploma. Sudah memiliki kerjaya dengan gaji bulanan minima RM2500, diikuti dengan sebuah rumah dan kereta. Tidak ketinggalan, wang tunai berjumlah RM30,000 untuk urusan perkahwinan seperti duit hantaran, dulang-dulang hantaran, cincin dan belanja kenduri kahwin. Jika seorang lelaki belum memiliki semua ini, dia belum layak untuk bergelar suami.
Namun dalam Islam, ukuran persediaan untuk menjadi suami bukanlah seperti di atas. Persediaan untuk menjadi suami lebih tertumpu kepada kualiti lelaki tersebut dan inilah yang akan diperincikan dalam kolum bulan ini.
Kepimpinan.
Persediaan terpenting ialah bakal suami perlu mengetahui bahawa dia memiliki tanggungjawab sebagai pemimpin ke atas keluarganya. Allah berfirman: Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan, oleh kerana Allah telah melebihkan orang-orang lelaki (dengan beberapa keistimewaan) atas orang-orang perempuan. [al-Nisa’ 4:34]
Sebagai pemimpin, bakal suami hendaklah memiliki ilmu rumahtangga, akhlak yang menterjemah teori kepada praktikal, disiplin yang tinggi serta wawasan yang luas. Jika sebelum ini pernah menjadi pemimpin, seperti pemimpin kelab, persatuan, rombongan atau jabatan, maka ia adalah pengalaman yang boleh dikembangkan dalam kepimpinan rumahtangga.
Bagi yang belum pernah, maka alam rumahtangga adalah suasana yang baik untuk mula melatih diri menjadi pemimpin. Terasa sukar? Jangan bimbang. Lantiklah isteri anda menjadi timbalan pemimpin untuk bersama-sama saling membantu mengemudi bahtera rumahtangga.
Di sini perlu diingatkan bahawa kepimpinan anda sentiasa dicatit markahnya oleh malaikat di bahu kanan dan kiri. Oleh itu berwaspadalah, jangan menjadi pemimpin yang ego dan zalim. Setiap langkah dan ciri kepimpinan anda akan dipersoalkan semula oleh Allah pada Hari Akhirat kelak.
Ketegasan.
Lanjutan dari ciri seorang pemimpin, bakal suami hendaklah tegas dalam membimbing isteri. Kelak apabila dianugerahkan cahaya mata, suami juga hendaklah tegas dalam membimbing anak-anak. Allah mengingatkan:
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya ada di antara isteri-isteri kamu dan anak-anak kamu yang menjadi musuh bagi kamu; oleh itu awaslah serta berjaga-jagalah kamu terhadap mereka.
Dan kalau kamu memaafkan dan tidak marahkan (mereka) serta mengampunkan kesalahan mereka (maka Allah akan berbuat demikian kepada kamu), kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani. [al-Taghabun 64:14]
Oleh itu dalam institusi perkahwinan, suami adalah pemimpin dan bukan yang dipimpin, penjaga dan bukannya dijaga serta pengawal dan bukannya dikawal. Namun ketegasan bukanlah bererti bengis dan menakutkan, sebaliknya hendaklah bersikap …memaafkan dan tidak marahkan (mereka) serta mengampunkan kesalahan mereka.
Pemelihara Dari Api Neraka.
Suami merupakan pemelihara agar ahli keluarga tidak masuk ke dalam api neraka. Firman Allah: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu dan keluarga kamu dari neraka yang bahan-bahan bakarannya: Manusia dan batu (berhala); Neraka itu dijaga dan dikawal oleh malaikat-malaikat yang keras kasar (layanannya); mereka tidak menderhaka kepada Allah dalam segala yang diperintahkanNya kepada mereka, dan mereka pula tetap melakukan segala yang diperintahkan. [al-Tahrim 66:06]
Justeru anda perlu melengkapkan diri dengan ilmu-ilmu agama dan seterusnya mendidik ahli keluarga serta memastikan mereka mempraktikannya. Lebih penting, anda hendaklah paling kehadapan dalam mempraktikkan ilmu-ilmu agama tersebut. Jangan sekadar menyuruh ahli keluarga mendirikan solat tetapi anda tidak solat, jangan sekadar menyuruh ahli keluarga menutup aurat tetapi anda mendedahkan aurat. Allah memberi amaran:
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya! Amat besar kebenciannya di sisi Allah kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya. [al-Saff 61:2-3]
Memberi Nafkah.
Termasuk persediaan menjadi suami ialah kesedaran bahawa anda merupakan sumber kewangan rumahtangga. Justeru anda bertanggungjawab menyediakan nafkah tempat tinggal, keperluan asas dalam tempat tinggal, pakaian, makanan dan minuman kepada ahli keluarganya. Anda juga bertanggungjawab ke atas kesihatan dan perubatan ahli keluarga seandainya mereka jatuh sakit.
Meskipun nafkah rumahtangga berada di atas bahu suami, ini tidaklah bererti suami mesti memiliki pendapat minima yang tertentu jumlahnya. Setiap suami memiliki kemampuan kewangan yang berbeza dan setiap suami berbelanja untuk ahli keluarganya pada kadar kemampuannya. Tidak ada nilai minimum atau maksimum untuk kadar nafkah ini.
Allah berfirman: Hendaklah orang (suami) yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya dan sesiapa yang di sempitkan rezekinya, maka hendaklah dia memberi nafkah dari apa yang diberikan Allah kepadanya (sekadar yang mampu). [al-Thalaq 65:07]
Demikianlah beberapa kualiti yang perlu ada pada seorang lelaki untuk dia menjadi seorang suami. Perhatikan bahawa kualiti-kualiti ini tidak ada ukuran minimum dan maksimum atau batasan tertentu bagi menentukan layak atau tidak. Ia adalah kualiti yang nilainya relatif, ia akan bertambah apabila anda berusaha untuk memperbaikinya dan akan berkurang apabila anda mengabaikannya.
Justeru lelaki yang sudah bersedia menjadi suami ialah lelaki yang mengetahui kualiti-kualiti ini, memilikinya dan berazam untuk terus memperbaikinya.
Wednesday, November 16, 2011
Jilbab Menurut Islam, Kristen Dan Yahudi: Mitos Dan Realita
Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."
Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.
Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.
Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).
Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?
Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).
St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."
Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).
Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Qur'an memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.
"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)
Di dalam Al Qur'an jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Qur'an surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)
Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.
Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Qur'an sangat
memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)
Bandingkan sikap Al Qur'an yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:
"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsel's father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).
Terjemahannya:
"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).
Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Qur'an atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?
Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.
Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager, Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !
Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of women's office di Universitas Queen berikut :
· Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.
· 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.
· 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.
· 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.
· Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.
Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.
Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.
Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol 'kesucian' saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []
Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.
Terjemahan ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.
Sumber: http://www.muslimdaily.net/wanita/4325/jilbab-menurut-islamkristen-dan-yahudimitos-dan-realita
Thursday, October 27, 2011
Thursday, October 20, 2011
Monday, October 10, 2011
Peringatan Hari Kelahiran
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan:
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum perayaan setelah setahun atau dua tahun atau lebih umpamanya, atau kurang, sejak kelahiran seseorang, yaitu yang disebut dengan istilah ulang tahun atau tolak bala. Dan apa hukum menghadiri pesta perayaan-perayaan tersebut. Jika seseorang diundang menghadirinya, apakah wajib memenuhinya atau tidak? Kami mohon jawabannya, semoga Allah membalas Syaikh dengan balasan pahala.
Jawaban:
Dalil-dalil syari'at dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa peringatan hari kelahiran termasuk bid'ah yang diada-adakan dalam agama dan tidak ada asalnya dalam syari'at yang suci, maka tidak boleh memenuhi undangannya karena hal itu merupakan pengukuhan terhadap bid'ah dan mendorong pelaksanaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,
"Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah." [Asy-Syura: 21]
Dalam ayat lain disebutkan,
"Artinya : Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari'at (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa." [Al-Jatsiyah: 18-19]
Dalam ayat lainnya lagi disebutkan,
"Artinya : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." [Al-A'raf : 3]
Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,
"Artinya : Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak." [1]
Dalam hadits lainnya beliau bersabda,
"Artinya ; Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Saw, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat." [2]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Di samping perayaan-perayaan ini termasuk bid'ah yang tidak ada asalnya dalam syari'at, juga mengandung tasyabbuh (menyerupai) kaum Yahudi dan Nashrani yang biasa menyelenggarakan peringatan hari kelahiran, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar tidak meniru dan mengikuti cara mereka, sebagaimana sabda beliau,
"Artinya : Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta, sampai-sampai, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka." Kami katakan, "Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?" Beliau berkata, "Siapa lagi." [3]
Makna 'siapa lagi' artinya mereka itulah yang dimaksud dalam perkataan ini. Kemudian dari itu, dalam hadits lain beliau bersabda,
"Artinya : Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka” [4]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada yang diridhai-Nya.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutannawwi’ah, juz 4, hal. 283]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718). Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq dalam Al-Buyu' dan Al-I'tisham.
[2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[3]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya' (3456). Muslim dalam Al-‘Ilm (2669).
[4]. Ahmad (5094, 5634). Abu Dawud (4031)..
Tuesday, October 4, 2011
WANITA; 1 AKAL, 9 NAFSU?
Sejak sekian lama masyarakat Islam di negara kita sentiasa terdedah dengan perkara yang pelik lagi menarik. Manusia memang berminat untuk mengetahui, mengeluar dan menyebarkan cerita-cerita yang karut, samada secara lisan, tulisan, filem atau apa saja.
Cerita bahawa kaum lelaki memiliki 9 akal dan 1 nafsu, manakala perempuan pula sebaliknya, iaitu 1 akal dan 9 nafsu memang amat masyhur sekali di kalangan kita. Ia telah dilihat dan diterima oleh masyarakat kita sebagai sesuatu yang benar. Jika ditanya dari manakah sumber fakta ini diambil, mereka akan menjawabnya; mendengarnya daripada para alim ulama’.
Kata-kata sakti ini dinukilkan daripada dialog yang berlaku di antara Imam al-Hasan al-Basri dengan tokoh Sufi yang masyhur, Rabiatul Adawiyah rahimahumalLah. Iaitu semasa al-Hasan pergi meminangnya setelah kematian suaminya, beliau telah disoal beberapa perkara oleh Rabiah dan tidak dapat menjawabnya. Tetapi apabila ditanya tentang akal, dikatakan al-Hasan telah menjawab sebagaimana di atas, iaitu 9:1 dan 1:9.
Demikianlah kisah yang didakwa telah berlaku di antara dua tokoh besar dalam Islam. Kisah ini telah dinukilkan oleh Usman al-Khaubawi, dalam kitabnya “Durrah an-Nasihin” , (dalam buku ini jugalah terdapat hadis masyhur di kalangan orang Melayu tentang kelebihan tertentu setiap malam solat terawih).
Menurut al-Fadhil Dr Abu Zaid, Ahmad Najib Abdullah al-Qari [mantan pensyarah KIAS, sekarang di APIUM, Nilam Puri] melalui makalah beliau dalam majalah “Pengasuh” terbitan MAIK bil 623:
Cerita ini tidak benar sama sekali untuk dinisbahkan kepada al-Hasan al-Basri (apalagi kepada Rasulullah saw) kerana ia diambil daripada sumber yang tidak sahih. Hujahnya mudah sahaja, al-Hasan al-Basri dilahirkan pada tahun 21H dan meninggal dunia pada 110H. Manakala Rabiatul Adawiyah pula -berdasarkan pendapat yang paling tepat- dilahirkan pada tahun 100H dan meninggal dunia pada 180H [Lihat: Az-Zahabi, Siyar A’lam an-Nubala’: 8341].
Ini bermakna ketika al-Hasan meninggal dunia, Rabiatul Adawiyah baru berumur 10 tahun, bagaimana pula boleh berlaku dialog sedemikian di antara mereka berdua?
Untuk maklumat lanjut sila lihat majalah “Pengasuh” yang tersebut di atas tadi. Wallahua’lam.
Akhukum, Abu Anas Madani, 23 Syawal 1432H.
Sunday, October 2, 2011
Ciri-Ciri Isteri Pilihan
| Ditulis oleh Kapten Hafiz Firdaus Abdullah | |
| Friday, 11 February 2011 |
Jika sebelum ini kita telah mengupas ciri-ciri suami pilihan, maka kali ini kita akan mengupas pula ciri-ciri isteri pilihan. Artikel ini ditujukan kepada bakal suami tentang apakah ciri-ciri isteri yang patut dia pilih, juga kepada bakal suami yang sudah ada calon isteri, maka ciri-ciri apakah yang patut dia didik calon isterinya itu. Tidak ketinggalan kepada wanita atau bakal isteri, ciri-ciri apakah yang sepatutnya dia melengkapi dirinya.
Pertama: Agama.
Ciri pertama yang penting ialah agama. Allah berfirman dengan membuat perbandingan:“Sesungguhnya seorang hamba wanita yang beriman lebih baik daripada wanita kafir musyrik sekalipun keadaannya menarik hati kamu.” [al-Baqarah 2:221]
Dalam perbandingan di atas, Allah menerangkan bahawa seorang wanita yang berstatus rendah, amat rendah sehingga ke tahap budak hamba, adalah lebih baik asalkan dia beriman kepada Allah (mukminat). Justeru yang membezakan ciri baik dan buruk bukanlah kecantikan atau daya tarikan, tetapi nilai agama seorang wanita.
Perhatikan juga bahawa Allah tidak menyebut wanita Islam (Muslimat) tetapi menyebut wanita beriman (Mukminat). Ini kerana tahap seorang Mukminat lebih tinggi dari tahap seorang Muslimat. Maka untuk ciri pertama ini, ciri isteri pilihan bukanlah sekadar muslimat yang biasa-biasa tetapi muslimat yang memiliki ilmu agama, beriman dengan teguh dan menterjemahkan ilmu dan keimanannya kepada amal shalih sehari-harian.
Berkenaan ciri agama ini, Rasulullah juga pernah bersabda: “Seorang wanita dinikahi kerana empat sebab: hartanya, keluarganya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah kerana agamanya, jika tidak kamu akan rugi.” [Shahih al-Bukhari, no: 4700]
Kedua: Cantik.
Jangan terperanjat jika Islam mementingkan ciri kecantikan kepada seorang isteri. Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” [Shahih Muslim, no: 131] Kecantikan sebegitu penting sehingga Rasulullah menganjurkan seorang lelaki untuk melihat wanita pilihannya sebelum pergi melamar atau meminang. Baginda bersabda:
“Apabila salah seorang dari kalian melamar wanita, maka selagi dia boleh melihat apa yang dapat mendorongnya untuk menikahinya, maka lakukanlah ia.” [Shahih Sunan Abu Daud, no: 2082]
Maksud kecantikan di sini ialah apa yang tulen, bukan kecantikan palsu umpama penggunaan alat solek. Bukan juga kecantikan yang menelan kos yang tinggi seperti pembedahan plastik, dandanan rambut di salon terkenal, penurunan berat badan di pusat-pusat yang diragui keberkesanannya dan pakaian fesyen terkini di butik yang berjenama.
Justeru mana-mana wanita yang ingin diperisterikan, bakal menjadi isteri dan sudah menjadi isteri, hendaklah menjaga kecantikan mereka dengan gizi pemakanan yang sihat, senaman dan keyakinan diri. Yakinlah bahawa semua wanita ciptaan Allah adalah cantik, hanya kecantikan itu akan dikecapi oleh lelaki yang tentu saja berbeza citarasanya antara satu dengan yang lain.
Ketiga: Menyenangkan Suami.
Rasulullah pernah ditanya tentang ciri-ciri isteri yang baik. Baginda menjawab: “Wanita yang membahagiakan (suaminya) jika dipandang, mentaatinya jika diperintahkan dan tidak menyelisihi berkenaan dirinya dan hartanya dengan apa yang tidak disukai (oleh suami).” [Shahih Sunan al-Nasa’e, no: 3231]
Ciri seorang isteri pilihan ialah dia memberi ketenangan, kegembiraan dan kebahagiaan apabila saja suami melihatnya. Jika suami menyuruh dia melakukan sesuatu, dia akan melakukannya sekadar yang mampu dengan syarat suruhan itu selari dengan syari’at Islam. Jika bertentangan, maka isteri tidak perlu taat. Namun berbincanglah dengan suami secara hikmah kerana mungkin suami tidak tahu mengenainya.
Selain itu isteri tidak akan menyelisihi, apatah lagi bertengkar atau memarahi, jika apa yang disukainya dibenci pula oleh suami. Ertinya, isteri berusaha untuk menyelaraskan kesukaannya dengan citarasa suami. Inilah yang dinamakan sehati, sejiwa.
Di sini mungkin ada yang bertanya, bahawa kenapa isteri mesti bersikap sehingga ke tahap demikian kepada suaminya? Apakah isteri tidak boleh bermuka muram, enggan taat dan memiliki pilihan tersendiri? Terhadap persoalan seperti ini atau yang seumpama, para isteri hendaklah sedar bahawa semua kebaikan yang dilakukan kepada suaminya, ia adalah ibadah kepada Allah. Dalam erti kata lain, suami merupakan sarana atau jalan untuk isteri beribadah kepada Allah. Perlu diingatkan bahawa ibadah bukan sahaja solat, puasa dan zikir, tetapi berbuat baik kepada suami sebagaimana dalam hadis di atas.
Keempat: Pandai Mendidik Anak-Anak.
Tanggungjawab suami ialah di luar rumah mencari nafkah untuk isteri dan anak-anak. Tanggungjawab isteri pula di dalam rumah mendidik anak-anak dan menjaga rumah. Maka atas dasar pembahagian tugas seperti ini, Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling lembut dan simpati pada anak pada masa kecilnya dan paling boleh menjaga harta suaminya.” [Shahih al-Bukhari, no: 4692]
Mungkin ada pula yang bertanya, bahawa isteri juga bekerja di luar rumah. Maka kenapa mereka dipertanggungjawabkan untuk urusan anak-anak dan penjagaan rumah? Jawapannya, pekerjaan di luar rumah tidak diwajibkan oleh Islam ke atas isteri. Jika isteri bekerja di luar rumah, maka ia adalah tanggungjawab tambahan yang dipilih oleh isteri itu sendiri. Jika isteri beralasan perlu mencari sumber kewangan tambahan untuk seisi keluarga, maka perlu ditanya kembali: “Apakah manusia pernah berkecukupan dalam urusan kewangan?”