Tuesday, September 7, 2010

Ayah, Ibu dan Perkahwinan Anak

Ayah dan ibu,

Kalian semua adalah insan yang mulia di dunia ini. Kalian telah diberikan rezeki yang banyak oleh Allah S.W.T. seperti harta kekayaan dan anak-anak yang soleh. Tetapi adakah kalian pernah memikirkan apa perasaan anak-anak kalian yang sudah dewasa. Mereka juga ingin menjadi seperti kalian. Mereka juga ingin berkahwin dan mendirikan rumah tangga sendiri. Mengapakah adanya halangan daripada ibu dan ayah dalam hal ini? Tidakkah ibu dan ayah suka untuk melihat anak-anak mereka juga bahagia?

Jadi, Mengapakah kalian menahan anak-anak kalian untuk berkahwin dengan berbagai alasan. Sebagai contoh kerana masih lagi belajar? Tidakkah anda tahu bahawa perkara ini bertentangan dengan apa yang dibawa oleh Nabi S.A.W. Adakah ibu dan bapa lebih besar daripada Nabi dalam perkara ini? Lihatlah hadis berikut:

Dalam sebuah Majlis Rasulullah bersabda :

“Jika datang kepada kalian (wahai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab, jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi”.

Kemudian ada yang bertanya :

“Wahai Rasulullah bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau kekurangan-kekurangan)?

Maka Rasulullah menjawab (mengulangnya tiga kali) :

“Jika datang pada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)! (HR Imam Tirmidzi dan Abu Hatim Al-Mazni)

Berdasarkan hadis ini tiada alasan untuk menolak perkahwinan sekiranya seorang lelaki yang mulia agama dan akhlaknya datang untuk meminang anak-anak kalian. Tiadapun Nabi menyebut sekiranya anak itu masih lagi belajar, maka tangguhkanlah perkahwinan itu sehingga dia tamat pengajian. Apa yang Nabi tekankan dalam hal ini adalah agama dan akhlak yang baik. Sekiranya baik kedua-duanya maka hendaklah kalian sebagai ayah dan ibu menerima lamaran itu dengan sebaiknya.

Ayah dan ibu,

Mari kita sama-sama lihat apa yang dikatakan oleh imam-imam besar apabila ditanya berkenaan dengan perkara ini:

1)

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Saudari berinisial MZ dari kota Thanjah di Maroko menghantarkan suratnya yang menyatakan keinginan untuk mengetahui pandangan Islam di dalam masalah yang sedang ia hadapi, seraya berkata : "Ketika masih kecil saya sangat bahagia sekali dan banyak teman-teman yang iri karena kebahagian itu sampai saya menjadi remaja yang layak menikah.

Kemudian ada sebagian lelaki yang ingin menikah datang ke rumah kami untuk melamar saya, namun kedua orang tua saya menolaknya dengan alasan saya harus menyelesaikan study. Saya sudah sering berupaya meyakinkan kepada mereka bahwa saya mahu menikah, dan (saya jelaskan) bahwa menikah tidak akan menggangu study saya, namun mereka tetap bersikap keras menolak untuk merestuinya.

Lalu, apakah boleh saya menikah tanpa persetujuan mereka berdua ? Jika tidak, apa yang harus saya lakukan ? Berilah saya jawabnya, semoga Allah berbelas kasih kepada Syaikh.

Jawapan:
Tidak diragukan lagi bahwa penolakan kedua orang tua anda untuk menikahkan anda dengan orang yang baik adalah merupakan perbuatan haram, (sebab) menikah itu lebih penting daripada sekolah dan juga tidak mengenepikan sekolah, karena dapat dipadukan. Maka dalam keadaan seperti ini boleh anda menghubungi Pusat Pengadilan Agama untuk menyampaikan apa yang telah terjadi, dan keputusan pada mereka (Pusat Pengadilan itu). (Kalau Pusat Pengadilan Agama menyetujui anda menikah, maka boleh anda menikah tanpa persetujuan kedua orang tua, -pent)

[Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2, hal 754]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juarisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

2)

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada suatu tradisi yang membudaya, yaitu perempuan atau orang tuanya menolak lamaran orang yang melamarnya karena alasan ingin menyelesaikan sekolahnya di SMU atau Perguruan Tinggi, atau bahkan karena anak (perempuan) ingin belajar beberapa tahun lagi. Bagaimana hukum masalah ini, apa nasihat Syaikh kepada orang-orang yang melakukan hal seperti itu, yang kadang-kadang anak perempuan itu sampai berusia 30 tahun belum menikah.

Jawapan:
Hukumnya adalah bahwa hal seperti itu
bertentangan dengan perintah Rasulullah صلی الله عليه وسلم, sebab beliau bersabda.

"Artinya : Apabila datang (melamar) kepada kamu lelaki yang kamu ridhai akhlak dan (komitmennya kepada) agamanya, maka kawinkanlah ia (dengan putrimu).

"Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kemampuan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan diri"

Tidak mahu menikah itu berarti menyia-nyiakan maslahat pernikahan. Maka nasihat saya kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, terutama mereka yang menjadi wali bagi putri-putrinya dan saudari-saudariku kaum Muslimat, hendaklah tidak menolak nikah (perkawinan) dengan alasan ingin menyelesaikan study atau ingin mengajar.

Perempuan boleh saja minta syarat kepada calon suami, seperti mahu dinikahi tetapi dengan syarat tetap diperbolehkan belajar (meneruskan study) hingga selesai, demikian pula (kalau sebagai guru) mahu dinikahi dengan syarat tetap menjadi guru sampai satu atau dua tahun, selagi belum sibuk dengan anak-anaknya. Yang demikian itu boleh-boleh saja, akan tetapi ada sahaja perempuan yang mempelajari ilmu pengetahuan di Perguruan Tinggi yang tidak mahukan. Ini merupakan masalah yang masih perlu diulang kaji.

Menurut pendapat saya bahwa apabila perempuan telah tamat Tingkat Dasar (SD) dan mampu membaca dan menulis dengannya ia dapat membaca Al-Qur'an dan tafsirnya, dapat membaca hadits dan penjelasannya (syarahnya), maka hal itu sudah cukup, kecuali kalau untuk mendalami suatu disiplin ilmu yang memang diperlukan oleh ummat, seperti kedoktoran (kebidanan, -pent-) dan lainnya, apabila di dalam studynya tidak terdapat sesuatu yang terlarang, seperti ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) atau hal lainnya.


[ As'illah Muhimmah Ajaba 'Anha Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 26-27]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 398-399 Darul Haq]

3)

Pertanyaan.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apabila ada seorang lelaki yang datang untuk meminang seorang gadis, akan tetapi walinya (ayahnya) menolak dengan maksud agar putrinya tidak menikah, maka bagaimana hukumnya ?

Jawapan:
Seharusnya para wali segera mengawinkan putri-putrinya apabila dipinang oleh laki-laki yang setara, apalagi jika mereka juga ridha. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Apabila datang kepada kamu orang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya untuk meminang (putrimu) makan kawinkanlah ia, sebab jika tidak, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi ini dan malapetaka yang sangat besar".[Riwayat At-Turmudzi, dan Ibnu Majah. Hadits ini adalah hadits Mursal, namun ada hadits lain sebagai syahidnya diriwayatkan oleh At-Turmudzi]

Dan tidak boleh menghalangi mereka menikah karena supaya menikah dengan lelaki lain dari anak temannya atau lainnya yang tidak mereka suka, ataupun karena ingin mendapat harta kekayaan yang lebih banyak, ataupun karena untuk tujuan-tujuan murahan lainnya yang tidak dibenarkan oleh syari'at Allah dan Rasul-Nya.

Kewajiban waliul amr (ulama dan umara) adalah bertindak tegas orang yang dikenal sebagai penghalang perempuan untuk menikah dan memperbolehkan para wali lainnya yang lebih dekat kepada sang putri untuk menikahkannya sebagai penegakan keadilan dan demi melindungi pemuda dan pemudi agar tidak terjerumus ke dalam apa yang dilarang oleh Allah (zina) yang timbul karena kezaliman dan tindakan para wali menghalang-halangi mereka untuk menikah.

Kita memohon kepada Allah, semoga memberikan petunjukNya kepada semua dan lebih mendahulukan kebenaran atas kepentingan hawa nafsu.

[Kitabud Da'wah, hal 165, dan Fatawa Syaikh Ibnu Baz]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]

Ayah dan ibu,

Sekiranya anak-anak berkahwin semasa masih belajar ianya tidak bermakna mereka akan meninggalkan pelajaran mereka setelah berkahwin. Bahkan perkahwinan akan memudahkan lagi perjalanan mereka dalam menuntut ilmu. Ini kerana, anak-anak mungkin akan terganggu dengan berbagai masalah dalam kehidupan mereka sebelum berkahwin. Sebagai contoh, anak-anak yang belajar di luar Negara mungkin akan berasa keseorangan apabila berada jauh daripada ayah dan ibu, mereka mungkin akan diganggu oleh laki-laki, dan tidak ada orang yang akan menegur mereka sekiranya melakukan kesalahan. Perkara-perkara seperti ini akan menyebabkan kesulitan dalam perjalanan menuntut ilmu anak-anak kalian. Sekiranya anak-anak sudah berkahwin maka perkara seperti ini dapat dielakkan kerana mereka mempunyai teman hidup yang dapat saling tegur menegur dan nasihat menasihati antara satu sama lain dan melindungi anak-anak kalian.

Ayah dan ibu,

Mungkin kalian berkahwin setelah tamat belajar. Tetapi kalian tidak perlulah untuk menahan anak-anak kalian daripada berkahwin ketika masih belajar supaya mereka mengikut jejak langkah kalian. Mungkin pada zaman anda itu lebih sesuai untuk berkahwin setelah tamat belajar. Tetapi pada hari, pada zaman ini dengan berbagai masalah sosial dikalangan remaja, perkahwinan itu hendaklah dilangsungkan sekiranya anak-anak telah bertemu jodoh masing-masing.

Ayah dan ibu,

Cubalah kalian mendalami perasaan anak-anak kalian. Mungkin ada dikalangan anak-anak yang menyembunyikan perasaan mereka kerana tidak ingin ayah dan ibu risaukan pasal mereka. Tetapi pada hakikatnya ada anak-anak yang sering menangis kerana tidak mampu untuk memberitahu keinginan mereka kepada ayah dan ibu. Kerana mereka takut ayah dan ibu akan menentang keras permintaan mereka itu dan mereka tidak mahu melawan cakap ayah dan ibu. Jadi sebagai sesama manusia yang mempunyai hati dan perasaan fahamilah perasaan anak-anak kalian wahai ayah dan ibu.

Sekian, semoga sama-sama kita mendapat manfaat daripada penulisan ini.

Oleh,

Seorang insan bergelar anak.

Wednesday, August 25, 2010

Betapa Ruginya Jika Kita Takut Untuk Berkahwin

Salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W iaitu Umar r.a. pernah berkata, “menangguhkan pernikahan adalah menangguhkan banyak manfaat yang sesungguhnya dapat dinikmati oleh manusia”. Jadi jelaslah di sini, janganlah kita takut untuk berkahwin kerana insyaAllah tidaklah sesusah dan seseram yang kita semua bayangkan. Kepada mereka yang masih lagi takut untuk berkahwin di sini ada beberapa perkara yang akan ditonjolkan supaya ketakutan itu sedikit sebanyak akan hilang. Antaranya ialah:

A. Mengapa kita suka untuk menjadi teman syaitan?
Allah telah menetapkan dalam sunnah-Nya bahawa perkara yang haq (benar) dan yang bathil (salah) itu tidak akan bersatu. Dan orang-orang yang beriman dilarang untuk mencampur adukkan antara yang haq dan yang batil. Seperti firman Allah, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.”(al-Baqarah:42).

Selain itu, kita sebagai orang yang beriman diperintahkan oleh Allah S.W.T untuk memerangi syaitan kerana syaitan itu mengajak manusia kepada kebathilan(kesesatan) dan melakukan dosa kepada Allah S.W.T. Syaitan menginginkan setiap apa yang dilakukan oleh manusia itu sentiasa bertentangan dengan al-Haq. Allah telah mengingatkan kita dalam firmannya, “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu.”(al-Hijr:28-31).
Maka mereka yang mampu untuk berkahwin tetapi tidak mahu berkahwin adalah termasuk saudara syaitan. Kejadian ini pernah terjadi pada zaman Rasulullah S.A.W iaitu salah seorang sahabat Nabi S.A.W sudah berkemampuan untuk berkahwin tetapi enggan, lalu dia datang menemui Nabi S.A.W.“Ukaf datang kepada Rasulullah, ia belum mahu berkahwin padahal telah mampu. Lalu Nabi bertanya kepadanya, “Apakah engkau telah beristeri wahai Ukaf?” Jawabnya “Belum”. Sabdanya, “tidakkah engkau mempunyai budak perempuan?” jawabnya, “Tidak”. Sabdanya apakah engkau sihat dan berkemampuan?” jawabnya, “Ya, Alhamdulillah”. Lalu sabdanya kalau begitu engkau termasuk temannya syaitan. Kerana mungkin engkau seperti pendeta Nasrani, lantaran itu engkau termasuk golongan mereka. Apabila engkau termasuk golongan kami hendaklah engkau berbuat seperti kebiasaan kami, kerana kebiasaan kami adalah beristeri. Orang yang paling durhaka di antara kamu ialah orang yang membujang, orang yang paling hina diantara kamu ialah para bujangan. Sebab itu, sungguh celakalah kamu, wahai Ukaf, sebab itu kahwinlah! Lalu Ukaf berkata, wahai Rasulullah, aku tidak mahu kahwin sebelum engkau mengahwinkan aku dengan orang paling engkau sukai. “Lalu Rasulullah bersabda: Kalau begitu aku kahwinkan engkau dengan nama Allah dan dengan berkah-Nya dengan Kultsum Al-Humai, seorang wanita berbudi mulia.”

Rasulullah S.A.W juga melarang keinginan sebahagian sahabat yang ingin meninggalkan pernikahan, walaupun dengan alasan untuk menumpukan diri dalam mengabdikan diri kepada Allah S.W.T. “Diceritakan bahawa Usman Bin Madz’un pernah mempunyai keinginan untuk membujang, lalu dilarang oleh Rasulullah S.A.W. Dan seandainya Rasulullah S.A.W membolehkan melakukan hal itu, maka tentulah kita harus berkasi.” (H.R Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dari Saad bin Abi Waqash r.a)

Jadi apa yang terbaik bagi kita bukanlah dengan hidup membujang, sekiranya kita ingin dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya serta memerangi syaitan. Dan bagi yang masih suka hidup sendirian fikirkanlah, mengapa kamu suka untuk berlama-lama berteman dan bersaudara dengan syaitan padahal kamu sudah mampu bernikah?

B. Hilanglah kemuliaan itu
Orang yang paling bahagia di akhirak kelak adalah orang yang mengikuti Nabinya dengan benar. Ini kerana orang yang sedemikian akan memperoleh kecintaan daripada Allah S.W.T, seperti yang telah dijanjikan dalam Firman-Nya, Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali Imran:31)

Sedangkan orang yang paling celaka adalah orang yang tidak mahu mengikuti Rasul-Nya. Mereka di akhirat kelak akan mendapat siksa yang pedih daripada Allah S.W.T sehingga mereka memohon kepada Allah agar diberi penangguhan dan dikembalikan ke dunia untuk melakukan amal soleh seperti yang telah ditunjukkan oleh Nabi. Seperti dalam firman Allah, Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." (Kepada mereka dikatakan): "Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?(Ibrahim: 44). Tetapi apakan daya nasi sudah menjadi bubur kerana penyesalan di akhirat adalah penyesalan yang tidak berguna lagi.

Salah satu perintah Allah dan juga merupakan sunnah Nabi-Nya adalah berkahwin. Jadi barangsiapa yang dipermudahkan oleh Allah untuk berkahwin maka hendaklah berkahwin dan tidak perlu khuatir menjadi terkungkung selepas berkahwin. Ini penting bagi seorang yang bergelar ummat Rasulullah S.A.W.“Bukan termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya kerana menikah, kemudian ia tidak menikah”(H.R ath-Thabrani).
Jadi sedarlah wahai saudaraku, bersegeralah berkahwin agar kemuliaan itu tidak hilang daripada kita, iaitu kemuliaan untuk meraih cinta daripada Allah dan Rasul-Nya.

C. Jangan jadikan diri kamu dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya
Jika kita imbas kembali pada zaman dahulu orang-orang nasrani telah dimurkai Allah kerana mereka mengadakan rahbaniyyah, iaitu hidup membujang dengan alasan untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah. Sedangkan perbuatan tersebut tidak pernah diajar dalam kitab suci mereka. Allah menerangkan perkara ini dalam Firman-Nya, Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik (al-Hadid: 27).

Sekiranya semua manusia mengikuti jejak langkah golongan nasrani ini, nescaya tidak ada lagilah generasi yang akan lahir di muka bumi ini. Ini kerana salah satu tujuan kita diperintahkan untuk berkahwin adalah agar generasi manusia tidak musnah. Perhatikan firman Allah ini, Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (an-Nisaa’:1)

Maka mereka yang tidak mahu berkahwin tanpa alasan yang dibenarkan syariat adalah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana golongan nasrani. Jadi elakkanlah diri kita daripada dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya. Ingatlah firman Allah yang berbunyi, Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti nyata. Dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.( al-Mujaadillah: 5)

D. Kita akan menjadi orang yang paling miskin
Miskin di sini bukan hanya miskin dari sudut harta benda tetapi juga miskin dalam perkara amal shaleh. Allah telah menjadikan berkahwin sebagai salah satu jalan kepada hamba-Nya untuk mendapatkan rezeki di dunia dan di akhirat. Rasulullah juga memerintahkan kita untuk mencari rezeki Allah dengan jalan berkahwin seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud, “Kahwinlah wanita-wanita itu, kerana mereka akan mendatangkan mal(wang)”.

Walaupun seseorang itu mempunyai harta yang banyak di dunia ini tetapi sekiranya dia enggan untuk berkahwin, maka dia akan menjadi orang yang miskin di akhirat kelak. Mengapa demikian? Kerana perkahwinan itu banyak mendatangkan amal shaleh, sebab setiap apa yag dilakukan seperti mencari nafkah, menyenangkan hati isteri, ketika bersetubuh dan lain-lain lagi dalam kerangka mencari redha Allah akan ditulis sebagai amal shaleh. Sabda Nabi S.A.W, "Sesungguhnya engkau tiada menafkahkan sesuatu nafkahpun yang dengannya itu engkau mencari keridhaan Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala karena pemberian nafkahmu tadi, sampaipun sesuatu yang engkau jadikan untuk makanan mulut isterimu."(Muttafaq 'alaih). Sabda Nabi S.A.W lagi, “Dan bagi kamu ada pahala kerana bersetubuh dengan isteri. Para sahabat ada yang bertanya: Apakah salah seorang kamu melepaskan nafsu seksnya boleh mendapat pahala?.Nabi S.A.W menjawab: Apakah pendapat kamu sekiranya kamu melepaskan nafsu seks kamu ke jalan yang haram, apakah ia tidak berdosa?. Maka, jika kamu melepaskan nafsu seks kamu ke tempat halal (kepada isteri kamu ), pastilah kamu akan mendapat pahala” (H.R. Muslim)

Dengan demikian, apa gunanya harta yang melimpah ruah yang dimiliki oleh seseorang, jika sedikit amalannya dan dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya? Jadi fikirkanlah orang-orang yang belum berkahwin, mengapa kamu suka menjadi orang yang paling miskin? Sabda Nabi S.A.W, “Miskin, miskin, miskin, seorang lelaki yang tidak beristeri”. Maka para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, meskipun dia seorang yang kaya hartanya?”. Maka jawab Beliau: “Ya, meskipun dia kaya hartanya”. Selanjutnya Beliau bersabda: “miskinah, miskinah, miskinah. Maka para sahabat bertanya lagi: “Ya Rasulullah. Meskipun dia seorang yang kaya hartanya?” Maka jawab Beliau: “Ya, meskipun dia kaya harta”.(H.R Ibnu Mundzir dan Abu Nu’aim dari Abu Najih As Salmi)

E. Jika kita mati, mayat kita akan menjadi mayat yang sangat buruk
Akhir perjalanan hidup manusia adalah kematian dan manusia tidak tahu bila dia akan mati. Seperti dalam firman Allah, Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.(al-Anbiyaa’:35) dan lagi firman Allah, Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.(Luqman: 34).

Alangkah ruginya jika perjalanan hidup seseorang berakhir dengan keburukan. Untuk itu manusia harus berusaha sebaik mungkin agar mati dalam keadaan yang baik. Peluang ini lebih mudah diperoleh bagi mereka yang sudah berkahwin, sebab muslim yang hidup membujang tanpa ingin berkahwin termasuk muslim yang buruk dan apabila meninggal dunia, maka mayatnya menjadi mayat yang buruk. Lainlah daripada orang yang sudah berkahwin, kerana perkahwinan itu menambah amal shaleh buat dirinya, sehingga mayatnya lebih utama jika dibandingkan keadaan dirinya dalam keadaan membujang. Sabda Nabi S.A.W, “Orang yang paling buruk diantara kalian ialah orang yang membujang dan seburuk-buruk mayat di antara kalian ialah yang membujang”. (H.R Abu Ya’la dari Athiyah bin Yasar)

Sebahagian sahabat Nabi juga sangat takut kalau mati dalam keadaan membujang. Kenyataan ini dapat kita perhatikan pada sahabat yang bernama Mu’adz bin Jabal r.a, ketika dua orang isterinya meninggal dunia akibat wabak taun, dia berkata: “Kahwinkanlah aku. Aku khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tidak beristeri”. Juga sahabat Ibnu Mas’ud r.a. Dia pernah berkata: “Seandainya tinggal sepuluh hari saja dari usiaku, nescaya aku tetap ingin berkahwin. Agar aku tidak menghadap Allah dalam keadaan membujang”. Lihatlah keadaan mereka itu! Hati mereka penuh kerinduan untuk berkahwin, agar dapat menjadi hamba yang mulia dan terhindar daripada keburukan hidup membujang. Kalau demikian tiada jalan lain lagi bagi kita, jika ingin menghadap Allah dalam keadaan baik, kecuali dengan berkahwin. Sabda Nabi S.A.W, “Barangsiapa yang ingin bertemua Allah dalam keadaan suci dan mensucikan maka hendaklah ia menikahi perempuan yang merdeka”.(H.R Ibnu Majah).

Setelah habis membaca penulisan ini diharapkan anda semua sudah mempunyai sedikit sebanyak semangat untuk berkahwin. Kepada yang belum menemui jodoh, sentiasalah berdoa kepada Allah dan kuatkanlah azam untuk berkahwin. Kepada orang yang sedang melangkah ke arah perkahwinan insyaAllah anda akan tetap mendapat pahala yang sama seperti orang yang sudah berkahwin. Perkara ini samalah seperti dalam hal hijrah, walaupun belum tiba tempat yang dituju lalu meninggal dunia, maka pahalanya tetap sama di sisi Allah S.W.T. Seperti firman-Nya: “Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(an-Nisaa’:100).

Thursday, July 29, 2010

AL-QUR'AN THE MIRACLES 15 in 1

Mari beli Quran yang canggih pada abad ini bagi membantu kita dalam memahami al-Quran dengan lebih mendalam.Bagi saya Quran ini sangat canggih kerana mempunyai berbagai fungsi, antaranya terjemahan perkataan dalam al-Quran per kata, panduan hukum tajwid, tafsir quran, asbabun nuzul dan banyak lagi.

Sekiranya anda berminat untuk membeli Quran ini walau di mana saja anda berada dan ingin melihat dengan lebih lanjut mengenainya anda boleh klik di sini.

Sunday, February 21, 2010

Rindu

Rindu itu adalah anugerah dari Allah
Insan yang berhati nurani punyai rasa rindu
Rindu pada kedamaian
Rindu pada ketenangan
Rindukan kesejahteraandan juga kebahagiaan

Orang mukmin merindukan
Anak-anak yang shaleh
Isteri-isteri yang shalehah
Keluarga bahagia

(syair nada murni)

Monday, February 1, 2010

Friday, January 29, 2010

Menangguhkan pernikahan kerana masih belajar

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ada suatu tradisi masyarakat zaman sekarang, yaitu perempuan atau orang tuanya menolak lamaran orang yang melamarnya kerena alasan ingin meyelesaikan pengajiannya di Universiti atau Perguruan Tinggi, atau karena anak (perempuan) ingin belajar beberapa tahun lagi. Bagaimana hukum masalah ini, apa nasihat Syaikh kepada orang-orang yang melakukan hal seperti itu, yang kadang-kadang anak perempuan itu sampai berusia 30 tahun belum menikah lagi.

Jawaban.
Hukumnya adalah bahawa hal seperti itu bertentangan dengan perintah Rasulullah S.A.W, sebab beliau bersabda.
"Artinya : Apabila datang (melamar) kepada kamu lelaki yang kamu redhai akhlak dan (komitmennya kepada) agamanya, maka kawinkanlah ia (dengan puterimu).
"Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai kemampuan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih menjaga kehormatan diri"
Tidak mahu menikah itu bererti menyia-nyiakan maslahat pernikahan. Maka nasihat saya kepada saudara-saudaraku kaum Muslimin, terutama mereka yang menjadi wali bagi puteri-puterinya dan saudari-saudariku kaum Muslimat, hendaklah tidak menolak nikah (perkawinan) dengan alasan ingin menyelesaikan study atau ingin mengajar.
Perempuan boleh saja meminta syarat kepada calon suami, seperti mahu dinikahi tetapi dengan syarat tetap diperbolehkan belajar (meneruskan study) hingga selesai, demikian pula (kalau sebagai guru) mahu dinikahi dengan syarat tetap menjadi guru sampai satu atau dua tahun, selagi belum sibuk dengan anak-anaknya.
Menurut pendapat saya bahwa apabila perempuan telah tamat pengajian pada peringkat SPM dan mampu membaca dan menulis dengannya ia dapat membaca Al-Qur'an dan tafsirnya, dapat membaca hadits dan penjelasannya (syarahnya), maka hal itu sudah cukup, kecuali kalau untuk mendalami suatu disiplin ilmu yang memang difardhukan keatas ummat, seperti kedoktoran (kebidanan) dan lainnya, apabila di dalam studynya tidak terdapat sesuatu yang terlarang, seperti ikhtilat (campur baur dengan laki-laki) atau hal lainnya maka tiada masalah untuk wanita belajar.

[ As'illah Muhimmah Ajaba 'Anha Syaikh Ibnu Utsaimin, hal 26-27]

[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 398-399 Darul Haq]